
catatannegeri.com – Jakarta, CNBC Indonesia – Tekanan perang yang makin intens dari Amerika Serikat dan Israel kini tidak hanya mengguncang militer Iran, tetapi juga memicu keretakan serius dalam lingkaran kekuasaan tertinggi negara tersebut. Indikasi perpecahan antara kelompok garis keras dan faksi yang lebih pragmatis mulai terbuka ke publik, terutama setelah polemik terkait pernyataan Presiden Masoud Pezeshkian mengenai negara-negara Teluk.
Situasi ini menggambarkan dinamika kompleks di balik layar pemerintahan Teheran, di mana konflik eksternal memperparah perbedaan pandangan internal. Keretakan ini berpotensi mengubah arah kebijakan luar negeri dan domestik Iran di masa mendatang.
Kematian Khamenei dan Kekosongan Kuasa
Ketegangan di kalangan elite Iran makin terlihat jelas setelah tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan militer sepekan lalu. Selama puluhan tahun, perbedaan pandangan di antara kelompok elite biasanya dapat diredam oleh kepemimpinan kuat Khamenei.
Namun, kematiannya membuka ruang bagi perdebatan internal yang selama ini tertahan, memunculkan spekulasi mengenai arah masa depan Republik Islam. Kekosongan kepemimpinan spiritual dan politik yang ditinggalkan Khamenei menciptakan turbulensi yang signifikan di Teheran.
Konflik yang meningkat dengan AS dan Israel juga memperbesar tekanan terhadap Republik Islam Iran. Serangan udara yang terus berlangsung dinilai mengancam kelangsungan sistem politik Iran, sehingga mendorong kelompok paling militan dalam struktur negara, yakni Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), untuk mengambil peran lebih besar dalam menentukan strategi perang.
Ironisnya, militer elit tersebut juga tengah terpukul oleh kampanye serangan yang menargetkan para petinggi mereka. Sejumlah komandan tinggi dilaporkan tewas dalam operasi militer yang dilakukan AS dan Israel, menambah daftar korban di tubuh Garda Revolusi.
Polemik Pernyataan Presiden Pezeshkian
Sejumlah sumber yang dekat dengan kepemimpinan Iran mengatakan kepada Reuters bahwa tekanan tersebut mulai menimbulkan ketegangan di antara para tokoh utama yang masih bertahan setelah rangkaian pembunuhan dalam serangan militer. Salah satu tanda paling jelas dari perpecahan internal muncul setelah Presiden Masoud Pezeshkian menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara Teluk atas serangan yang berlangsung selama sepekan ke wilayah mereka.
Ia juga berjanji untuk menahan diri dari serangan serupa di masa depan, sebuah pernyataan yang secara langsung menyinggung sensitivitas kelompok garis keras. Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari kelompok garis keras di kalangan Garda Revolusi maupun elite ulama.
Tekanan yang muncul akhirnya memaksa Pezeshkian untuk sedikit mundur dari sikap awalnya, menunjukkan betapa rapuhnya posisinya di tengah faksi-faksi yang bersaing. Dalam salah satu kritik paling terbuka terhadap presiden, ulama garis keras sekaligus anggota parlemen Hamid Rasai menyampaikan kecamannya melalui media sosial.
“Sikap Anda tidak profesional, lemah, dan tidak dapat diterima,” tulis Rasai, menegur sikap presiden secara langsung di hadapan publik. Tak lama kemudian, ketika Pezeshkian kembali mengunggah pernyataan serupa di media sosial, ia tidak lagi menyertakan permintaan maaf yang sebelumnya memicu kemarahan para tokoh garis keras.
Langkah itu dipandang sebagai bentuk mundur yang cukup memalukan di tengah tekanan internal, menandakan bahwa faksi garis keras masih memiliki pengaruh besar dalam membentuk narasi pemerintah. Dua sumber senior mengatakan bahwa selama ini pemerintah Iran memang terkadang menonjolkan perbedaan antara kelompok moderat dan garis keras sebagai taktik diplomasi dalam bernegosiasi dengan Barat.
Namun dalam kasus pernyataan Pezeshkian, perbedaan yang muncul kali ini dianggap mencerminkan ketegangan nyata yang sulit disembunyikan. Seorang tokoh garis keras yang dekat dengan kantor Khamenei mengatakan kepada Reuters bahwa komentar presiden telah membuat banyak komandan senior Garda Revolusi marah, mempertegas ketidakpuasan mereka terhadap pendekatan yang lebih lunak.
Perebutan Suksesi dan Peran IRGC
Sementara itu, seorang sumber Iran lainnya yang merupakan mantan pejabat moderat menilai tidak ada figur yang benar-benar mampu menggantikan Khamenei. Ia menggambarkan pemimpin yang baru wafat itu sebagai seorang ahli strategi tangguh yang berhasil memimpin Iran melewati berbagai krisis berat selama bertahun-tahun, meninggalkan warisan kepemimpinan yang sulit ditandingi.
Di tengah meningkatnya kecemasan di kalangan elite politik Iran, para ayatollah senior kini mendorong percepatan penunjukan pemimpin tertinggi yang baru. Badan ulama yang bertanggung jawab memilih pemimpin tertinggi bahkan dilaporkan sedang mempercepat prosesnya, dengan keputusan kemungkinan diambil pada Minggu.
Meski demikian, belum jelas apakah pengganti Khamenei nantinya memiliki otoritas yang cukup kuat untuk meredam konflik antar faksi yang mulai terbuka. Putra Khamenei, Mojtaba Khamenei, disebut sebagai salah satu kandidat terkuat, diyakini mendapat dukungan dari Garda Revolusi serta jaringan kuat dari kantor ayahnya.
Namun posisinya tidak sepenuhnya aman; Mojtaba dianggap masih relatif muda dibandingkan banyak ayatollah senior Iran, serta dinilai belum teruji secara politik. Selain itu, ia juga disebut telah membuat sebagian kalangan moderat di dalam sistem kekuasaan merasa tidak nyaman, memunculkan keraguan terhadap kemampuannya menyatukan berbagai faksi.
Kandidat lain yang mungkin muncul juga diperkirakan akan menghadapi tantangan dalam mempertahankan loyalitas penuh dari Garda Revolusi, yang merupakan elemen penting dalam menjaga stabilitas sistem politik Iran. Alex Vatanka, peneliti senior di Middle East Institute, mengatakan bahwa situasi perang cenderung memperjelas siapa yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan.
“Masa perang cenderung memperjelas struktur kekuasaan, dan dalam kasus ini suara yang menentukan bukanlah suara kepemimpinan sipil melainkan suara IRGC,” ujarnya, menekankan dominasi militer dalam pengambilan keputusan strategis.
Struktur Unik Kekuasaan Iran dan Kepemimpinan Transisi
Sistem politik Iran memiliki struktur yang unik, di mana presiden, pemerintah, dan parlemen yang dipilih melalui pemilu berada di bawah otoritas seorang ayatollah yang ditunjuk oleh lembaga ulama sebagai pemimpin tertinggi. Pemimpin tertinggi memiliki kewenangan terbesar dalam negara, termasuk mengawasi langsung Garda Revolusi serta berbagai institusi penting lainnya, menjadikannya figur sentral dalam setiap kebijakan.
Selama 36 tahun memimpin, Khamenei kerap memainkan keseimbangan antara kelompok garis keras dan moderat dalam sistem kekuasaan Iran. Ia membiarkan kedua kubu menyampaikan perbedaan pandangan, tetapi tetap memegang keputusan akhir, menjadi jembatan antara ideologi yang bertentangan.
Setelah kematiannya, kepemimpinan sementara secara formal diserahkan kepada sebuah dewan transisi yang terdiri dari Presiden Pezeshkian, kepala lembaga peradilan yang juga seorang ulama, serta satu ulama lain dari Dewan Garda. Namun tanpa figur Khamenei, ketegangan bahkan mulai terlihat di dalam badan kepemimpinan sementara tersebut, menunjukkan rapuhnya kohesi tanpa pemimpin tunggal yang kuat.
Kepala lembaga peradilan Iran yang dikenal sebagai tokoh garis keras, Ayatollah Gholamhossein Mohseni-Ejei, secara terbuka menyatakan bahwa beberapa negara di kawasan telah mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Ia juga menegaskan bahwa serangan balasan akan terus dilakukan, sebuah pernyataan yang secara jelas bertentangan dengan nada lebih moderat dari presiden dan mengindikasikan perpecahan dalam dewan transisi itu sendiri.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Siapa Ayatollah Ali Khamenei?
Ayatollah Ali Khamenei adalah Pemimpin Tertinggi Iran yang telah memimpin selama 36 tahun hingga kematiannya sepekan lalu. Ia memiliki otoritas tertinggi dalam sistem politik Iran, mengawasi pemerintahan, parlemen, dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Apa peran Presiden Masoud Pezeshkian dalam sistem politik Iran?
Masoud Pezeshkian adalah Presiden Iran, yang posisinya berada di bawah otoritas Pemimpin Tertinggi. Presiden bertugas memimpin pemerintahan dan melaksanakan kebijakan, namun keputusannya dapat dipengaruhi atau bahkan ditentang oleh faksi garis keras, terutama Garda Revolusi dan ulama senior.
Mengapa kematian Ayatollah Ali Khamenei memicu keretakan internal di Iran?
Kematian Khamenei menciptakan kekosongan kepemimpinan yang sebelumnya kuat dan mampu menekan perbedaan pandangan di antara elite. Tanpa figur sentral tersebut, perdebatan internal antara kelompok garis keras dan pragmatis mulai terbuka, terutama mengenai strategi menghadapi konflik dengan AS dan Israel serta isu suksesi.
Apa itu Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan perannya di Iran?
Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) adalah militer elit di Iran yang memiliki pengaruh besar dalam sistem politik dan militer negara. Mereka merupakan kelompok paling militan dan seringkali memiliki pandangan garis keras, memainkan peran krusial dalam menentukan strategi perang dan menjaga stabilitas sistem politik Iran.
Siapa saja kandidat utama pengganti Pemimpin Tertinggi Iran?
Salah satu kandidat terkuat yang disebut-sebut adalah Mojtaba Khamenei, putra dari Pemimpin Tertinggi yang baru wafat, yang diyakini mendapat dukungan dari Garda Revolusi. Namun, ia juga menghadapi tantangan karena dianggap relatif muda dan belum teruji secara politik oleh sebagian kalangan.











