Inggris Tawarkan Kapal Induk untuk Lawan Iran, Trump: Kami Tak Butuh!

Berita57 Dilihat

catatannegeri.com – Inggris dilaporkan tengah serius mempertimbangkan untuk mengirimkan dua kapal induknya ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini diambil di tengah situasi tegang yang disebut-sebut sebagai perang antara Israel dan Amerika Serikat (AS) melawan Iran.

Namun, tawaran dukungan signifikan dari sekutu lamanya ini justru mendapatkan respons dingin dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump secara tegas menyatakan bahwa pihaknya sama sekali tidak membutuhkan bantuan Inggris untuk memenangkan konflik tersebut.

Keretakan Hubungan Transatlantik dan Kritik Trump

Donald Trump, seperti dilansir Reuters pada Minggu (8/3/2026), telah berulang kali melontarkan kritik pedas terhadap Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Ia menuding Starmer telah membantu merusak hubungan historis kedua negara yang selama ini terjalin sangat dekat.

Keretakan ini bermula setelah London memblokir penggunaan awal pangkalan Inggris oleh AS untuk melancarkan serangan terhadap Iran. Keputusan tersebut tampaknya menyulut kemarahan Trump yang merasa kurangnya dukungan dari sekutu utamanya.

Dalam sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social, Trump terang-terangan mengatakan bahwa ia “akan mengingat” kurangnya dukungan Inggris selama konflik dengan Iran. Pernyataan ini menunjukkan kekecewaan mendalam dan potensi dampak jangka panjang terhadap hubungan bilateral.

“Britania Raya, yang dulu merupakan Sekutu Hebat kita, mungkin yang terhebat dari semuanya, akhirnya memberikan pertimbangan serius untuk mengirim dua kapal induk ke Timur Tengah,” tulis Trump dalam unggahannya. Ia melanjutkan dengan nada sarkastis, “Tidak apa-apa, Perdana Menteri Starmer, kami tidak lagi membutuhkan mereka—Tapi kami akan mengingatnya. Kami tidak butuh orang yang bergabung dalam Perang setelah kami menang!”

Persiapan Inggris dan Pembelaan Starmer

Unggahan provokatif dari Trump itu muncul setelah Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan kapal induk HMS Prince of Wales untuk dikerahkan. Persiapan ini menunjukkan keseriusan London dalam mempertimbangkan opsi militer di tengah krisis regional.

Meskipun demikian, seorang pejabat Inggris menegaskan bahwa belum ada keputusan akhir yang diambil mengenai apakah kapal induk tersebut akan benar-benar dikerahkan ke Timur Tengah. Hal ini mengindikasikan bahwa diskusi internal masih berlangsung mengenai langkah strategis terbaik.

Keir Starmer, di sisi lain, membela keputusannya untuk tidak mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan Inggris guna mendukung serangan awal terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa tindakan militer apapun harus dipastikan legal dan terencana dengan sangat baik sebelum diimplementasikan.

Starmer kemudian memberikan izin bagi pasukan AS untuk menggunakan pangkalan Inggris, namun terbatas untuk apa yang ia sebut sebagai serangan defensif. Serangan ini ditujukan terhadap rudal-rudal Iran yang berada di gudang penyimpanan atau fasilitas peluncur.

Sejarah Gesekan antara Trump dan Starmer

Insiden penolakan bantuan kapal induk ini bukanlah kali pertama ketegangan antara Donald Trump dan Keir Starmer mencuat ke publik. Awal tahun ini, Starmer juga pernah melontarkan kritik tajam terhadap keinginan Trump untuk membeli Greenland, sebuah wilayah otonom Denmark.

Selain itu, Starmer juga mengecam komentar Trump yang menyebut bahwa pasukan Eropa menghindari pertempuran garis depan dalam perang di Afghanistan. Ia menyebut komentar Trump itu sebagai hal yang “terus terang, sangat mengerikan,” menunjukkan perbedaan pandangan yang fundamental antara kedua pemimpin.

Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan adanya dinamika yang kompleks dan penuh tantangan dalam hubungan antara Amerika Serikat dan Inggris di bawah kepemimpinan Trump dan Starmer. Masa depan ‘hubungan istimewa’ kedua negara kini berada di ambang ketidakpastian.